Notification

×

INDEKS BERITA

Menjaga Denyut Adat di Nagari Kito: Sanggar Adat Soko Datuak Sati Menyemai Warisan, Menyambung Generasi

26/08/2026 | 14:48 WIB Last Updated 2026-08-26T07:48:02Z

 


Talu|Rakyat MerdekaTop _“Jojak siagau nan katumbuh dalam soko kito masing-masing. Iduik nan bauntuang, mati nan babagian. Bauntuang lah dek badan diri kami. Datang maantaa omeh, pulang bacorai batimbang adaik. Kadalam lingkungan parik nan balingka, aua nan babarih, kadalam Soko Datuak Sati ko.”_


Demikian sepotong bunyi parundiangan yang menjadi pengingat bahwa adat bukan sekadar kata yang diwariskan dari masa lalu. Ia adalah jejak yang mesti diinjak, nilai yang mesti dijalankan, serta amanah yang harus dijaga agar tidak putus di tengah perjalanan zaman.


Di tengah derasnya perubahan zaman, ketika generasi muda semakin akrab dengan dunia digital dan berbagai budaya dari luar, Sanggar Adat Soko Datuak Sati, Kampuang Pinang, Nagari Sungai Janiah Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, hadir sebagai sebuah ruang untuk kembali mengenal akar.


Bukan sekadar tempat berkumpul. Bukan pula hanya tempat mempelajari rangkaian kata-kata adat. Sanggar ini menjadi ruang untuk menumbuhkan kembali ingatan kolektif tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana sebuah warisan kebudayaan seharusnya dipelihara.


Setiap malam Kamis, selepas Isya sekitar pukul 20.00 WIB, suasana di Sanggar Adat Soko Datuak Sati diisi dengan proses belajar bersama. Di sana, adat tidak hanya dibicarakan, tetapi dipelajari, dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan.


Materi yang dipelajari pun beragam, mulai dari papatah-petitih, pidato adat, barundiang, silek, tata cara adat, sejarah, hingga berbagai pengetahuan adat lainnya.


Menariknya, ruang belajar ini tidak hanya diperuntukkan bagi cucu kamanakan Datuak Sati. Sanggar tersebut membuka pintu selebar-lebarnya bagi masyarakat Sungai Janiah dan siapa pun yang memiliki keinginan untuk mengenal serta mempelajari adat.


Sebab, adat tidak akan panjang umurnya jika hanya disimpan di dalam satu lingkungan. Adat akan tetap hidup ketika ia dipelajari bersama, dipahami bersama, dan diamalkan bersama.


Salah satu pembelajaran yang menjadi bagian penting di Sanggar Adat Soko Datuak Sati adalah barundiang. Pelatihan barundiang dibagi ke dalam beberapa  kelompok dan setiap kolompok disampingi beberapa orang pensampinh dengan materi yang berbeda sesuai tahapan pembelajarannya.


Kelompok pertama mempelajari barundiang makan dan maughak selo. Kelompok kedua mempelajari maghombang cighano, manyoghan kojo padek dapua, serta manunbang tando. Sementara kelompok ketiga mempelajari majopuik marapulai dan mankopiik adaik.


Di samping itu, terdapat pula pelatihan mendoa secara adat serta berbagai pembelajaran lainnya yang berkaitan dengan tata kehidupan dan kebudayaan masyarakat.


Dari sana terlihat bahwa belajar adat bukan hanya belajar bagaimana mengucapkan kalimat yang benar. Lebih jauh, seseorang sedang belajar tentang tata krama, cara menghargai orang lain, cara menempatkan diri, cara bermusyawarah, dan cara menjaga marwah bersama. Barundiang pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling pandai berbicara. Ia adalah tentang bagaimana seseorang mampu menyampaikan pikiran dengan tertib, mendengar dengan bijaksana, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama.


Roiz Zulhadi Datuak Sati menyampaikan bahwa kehadiran Sanggar Adat Soko Datuak Sati diharapkan menjadi salah satu wadah bagi generasi untuk terus mengenal dan mempelajari adat, sehingga nilai-nilai adat tetap bertahan dan terjaga di tengah perubahan zaman. Menurutnya, keberlangsungan sanggar membutuhkan doa dan dukungan bersama agar kegiatan pembelajaran adat ini dapat terus berjalan. Yang paling penting, pintu sanggar tidak dibatasi hanya untuk kalangan tertentu. Siapa pun yang ingin belajar dipersilakan untuk datang dan belajar bersama.


Pesan tersebut sesungguhnya sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam: warisan budaya tidak akan pernah benar-benar menjadi milik kita apabila kita tidak mau mempelajarinya. Sebab sebuah adat bisa hilang bukan karena tidak pernah diwariskan, tetapi karena generasi setelahnya tidak lagi merasa perlu untuk mengenalnya. Karena itu, Sanggar Adat Soko Datuak Sati mencoba mengambil peran di titik yang paling penting: menjembatani warisan masa lalu dengan generasi masa kini.


Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar aktivitas belajar setiap malam Kamis. Di balik lantunan papatah-petitih, latihan barundiang, gerakan silek, pembelajaran tata cara adat, hingga sejarah yang kembali dibuka, terdapat sebuah ikhtiar untuk menjaga agar identitas tidak larut ditelan zaman. Sebab kemajuan tidak semestinya membuat seseorang lupa pada akar.


Kita boleh berjalan jauh, tetapi jangan sampai lupa dari mana langkah itu bermula, Kita boleh mengenal dunia, tetapi jangan sampai kehilangan cara untuk mengenali diri sendiri. Dan kita boleh hidup di zaman yang serba cepat, tetapi ada nilai-nilai yang justru harus dipelajari dengan sabar: adat, sopan santun, marwah, musyawarah, kebersamaan, dan rasa hormat kepada sesama.


Sebuah ruang sederhana yang menyimpan pekerjaan besar: menjaga agar yang diwariskan oleh niniak mamak tidak berhenti sebagai cerita, tetapi terus hidup dalam laku generasi. Karena pada akhirnya, adat bukan hanya sesuatu yang kita warisi. Adat adalah amanah. Ia datang dari mereka yang terdahulu, berada di tangan kita hari ini, lalu menunggu untuk diserahkan kepada mereka yang akan datang. Jika hari ini masih ada yang mau duduk belajar, mendengar, bertanya, dan memahami, maka harapan itu masih menyala.


Jika masih ada generasi yang mau mengenal papatah-petitih, memahami barundiang, mempelajari silek, mengetahui tata cara adat, serta mengenang sejarahnya, maka warisan itu belum berakhir.


Sebab menjaga adat bukan berarti hidup di masa lalu.

Menjaga adat adalah memastikan masa depan tidak kehilangan akar.


Dan dari sebuah ruang bernama Sanggar Adat Soko Datuak Sati, ikhtiar itu sedang dimulai pelan, bersama-sama, malam demi malam, dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Datang untuk belajar, pulang membawa pemahaman.

Datang membawa rasa ingin tahu, pulang membawa amanah.

Karena adat akan tetap hidup, selama masih ada hati yang mau menjaganya.(Syafrie)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update