PADANG- Kabar duka menyelimuti Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Syaiful Bahri, sosok yang akrab disapa Pak Pung, berpulang pada usia 59 tahun, Sabtu (5/9/2026).
Kepergian Syaiful Bahri bukan sekadar kehilangan bagi keluarga. Kepergiannya juga menyisakan duka bagi jajaran pemerintahan, sahabat, kolega, serta mereka yang selama bertahun-tahun pernah bersentuhan dengan perjalanan pengabdiannya.
Di mata banyak orang, Syaiful Bahri bukan hanya seorang pejabat yang datang dan pergi bersama jabatan. Ia dikenal sebagai pribadi yang mudah ditemui, terbuka dalam berkomunikasi, dan tidak segan meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang berbagai persoalan daerah.
Sebelum melanjutkan karier pemerintahan di Kota Padang dan kemudian dipercaya mengemban amanah di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, almarhum pernah menjadi bagian dari Pemerintah Kota Padang Panjang. Salah satu jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya adalah sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang Panjang.
Karena itu, nama Syaiful Bahri bukanlah sosok yang asing di Padang Panjang. Ia meninggalkan kenangan di kalangan aparatur pemerintahan, pelaku pariwisata, maupun masyarakat yang pernah berinteraksi dengannya.
Kabar berpulangnya Syaiful Bahri turut dirasakan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah. Mahyeldi datang langsung ke rumah duka di Jalan Koto Baru No. 14 A, Kelurahan Koto Baru Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sabtu (5/9/2026).
Di tengah suasana duka, kehadiran Mahyeldi menjadi bentuk penghormatan sekaligus penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Mahyeldi mengenang Syaiful Bahri sebagai sosok yang baik dan memiliki dedikasi tinggi dalam menjalankan amanah pemerintahan. Menurutnya, hubungan kerja dan komunikasi dengan almarhum telah terjalin cukup lama.
“Beliau adalah pribadi yang baik dan penuh dedikasi. Sejak saya menjabat sebagai Wali Kota Padang, saya sudah mengenal beliau dan mempercayakan berbagai posisi dan tugas kepada beliau. Semua tugas dijalankan dengan baik dan penuh dedikasi,” ujar Mahyeldi.
Mahyeldi mengatakan, perjalanan pengabdian Syaiful Bahri telah memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah dan masyarakat Sumatera Barat.
Termasuk ketika dipercaya memimpin Dinas Kebudayaan Sumbar, almarhum tetap menjalankan amanah tersebut hingga akhir pengabdiannya.
“Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan kesalahan beliau, menerima seluruh amal ibadah serta menempatkan beliau di tempat yang mulia di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan,” kata Mahyeldi.
Jenazah Syaiful Bahri sebelumnya dimandikan di rumah duka dan disalatkan di Masjid Nurul Ikhlas. Setelah itu, jenazah dibawa ke Kantor Gubernur Sumatera Barat untuk dilepas secara kedinasan sebelum dimakamkan di makam keluarga di kawasan Andalas, Kota Padang. "Ruang Diskusi Itu Kini Telah Terhenti"Duka yang sama dirasakan Ketua Jaringan Komunikasi Informasi Publik (JKIP) Padang Panjang, Rifnaldi.
Bagi Rifnaldi, Syaiful Bahri bukan sekadar mantan pejabat yang pernah bertugas di Padang Panjang. Lebih dari itu, almarhum merupakan sosok yang selama bertahun-tahun menjadi teman berdiskusi tentang berbagai persoalan daerah.
Pertemuan dan komunikasi keduanya berlangsung sejak Syaiful Bahri bertugas di Padang Panjang, kemudian ketika melanjutkan pengabdian di Kota Padang hingga berada di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Berbagai persoalan pernah menjadi bahan pembicaraan. Mulai dari pendidikan, pertanian, pariwisata, kebudayaan hingga berbagai persoalan pembangunan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
“Beliau bukan sosok yang asing bagi kami di Padang Panjang. Selama beliau berdinas di Padang Panjang maupun setelah pindah ke Padang dan bertugas di Pemprov Sumbar, kami cukup sering berdiskusi tentang banyak hal,” ujar Rifnaldi.
Menurutnya, komunikasi dengan almarhum tidak selalu berlangsung dalam suasana formal. Banyak gagasan dan persoalan daerah dibicarakan dalam ruang komunikasi yang cair dan terbuka.
“Banyak hal yang kami diskusikan, mulai dari pendidikan, pertanian, pariwisata dan berbagai persoalan lainnya. Bahkan baru-baru ini kami sempat membicarakan persiapan Festival 50 Tahun Museum Adityawarman bersama Wali Kota Padang, Fadly Amran,” tuturnya.
Karena itu, kabar kepergian Syaiful Bahri terasa begitu mengejutkan. Ada sosok yang biasanya dapat diajak berbicara, bertukar pikiran dan berdiskusi tentang berbagai persoalan daerah, kini telah pergi untuk selamanya.
“Rasanya sulit percaya beliau sudah tidak ada. Sebab selama ini komunikasi masih berjalan dan kami masih sempat berdiskusi tentang berbagai rencana dan persoalan daerah,” ujar Rifnaldi.
Syaiful Bahri kini telah menyelesaikan perjalanan panjang pengabdiannya. Jabatan demi jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya pada akhirnya menjadi bagian dari masa lalu. Namun, bagi orang-orang yang pernah bekerja dan berdiskusi dengannya, yang tersisa bukan sekadar catatan jabatan.
Ada kenangan. Ada gagasan .Ada kebaikan. Dan ada jejak pengabdian yang akan terus dikenang.
Kepergian seorang pejabat mungkin tercatat dalam dokumen pemerintahan. Tetapi kepergian seorang sahabat, rekan berdiskusi dan sosok yang pernah hadir dalam perjalanan banyak orang, meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah digantikan.Kini, ruang diskusi itu telah terhenti.
Tidak ada lagi percakapan tentang pendidikan, pertanian, pariwisata, kebudayaan maupun masa depan daerah bersama Pak Pung. Namun, gagasan dan kebaikan yang pernah ia tinggalkan akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah mengenalnya.
Mahyeldi pun berharap seluruh pengabdian Syaiful Bahri selama hidup menjadi amal yang terus mengalir.
“Insyaallah, seluruh kontribusi, pengabdian, dan kebaikan yang telah beliau berikan kepada daerah dan masyarakat semasa hidup menjadi amal ibadah dan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT,” kata Mahyeldi.
Syaiful Bahri telah berpulang. Ia meninggalkan keluarga yang mencintainya, sahabat yang kehilangan teman, kolega yang kehilangan rekan kerja, serta daerah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Selamat jalan, Syaiful Bahri, Pak Pung.
Terima kasih atas pengabdian, persahabatan, gagasan dan kebaikan yang pernah ditinggalkan. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan kesalahan almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan tempat peristirahatan terakhirnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.(*)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar